Politik Sengkuni di Bumi Wangi

Home / Opini / Politik Sengkuni di Bumi Wangi
Politik Sengkuni di Bumi Wangi Andah Wibisono, aktivis dan pengamat politik di Banyuwangi. (FOTO: Syamsul Arifin/ TIMES Indonesia)

TIMESRIAU, BANYUWANGI – Telah hadir tontonan baru di panggung politik Bumi Wangi. Sebuah negeri indah, berpenduduk ramah lengkap dengan segudang potensi alam.

Yakni sebuah pertunjukan manipulasi opini, kebohongan publik serta penyesatan informasi yang dilakukan dengan sewenang-wenang. Arogan yang dibungkus rapi dengan pencitraan diri.

Setelah sekian lama rakyat Bumi Wangi dijejali oleh berita keberhasilan demi keberhasilan dan segudang penghargaan yang diterima oleh manusia yang seolah sempurna tanpa kesalahan. Dan lalu tiba-tiba ‘Mak Jleb’ muncul gambar menyebar, tentang bagian tubuh seindah milik bidadari kahyangan.

Rakyat Bumi Wangi pun tertegun. Termangu-mangu dan mengelus dada.

Seolah tidak percaya. Tetapi itulah faktanya. Akhirnya rakyat Bumi Wangi yang selalu mendambakan kedamaian, kesejukan, kesejahteraan dan keadilan beradab, spontan geleng-geleng kepala.

Pukulan psikologis yang sangat dasyat bagi masyarakat Bumi Wangi. Terlebih sejak zaman baheula, nenek moyang mereka hanya mewariskan watak bangsa yang elegan, santun dan welas asih.

Tetapi welas asih itu sekarang seolah menguap dari bumi pertiwi berganti dengan ‘Adhigang Adhigung Adhiguna Sopo Siro Sopo Ingsun’. Sungguh, tengara itu patut diratapi oleh siapapun termasuk para bijak cendekia.

Kemana larinya kebijaksanaan. Kemana raibnya sikap gotong-royong dan watak prawiradiharja para pemimpin yang suka mengayomi kawula. Mungkin ini akibat dari sistem demokrasi bebas tak berbatas yang terlanjur diadopsi negeri Bumi Wangi. Termasuk sebuah reformasi yang kebablasan.

Selalu rakyat jelata yang jadi korban kegamangan dan kegalauan pemimpinnya. Apalagi, hari ini negeri Bumi Wangi sedang punya gawe besar dalam pergantian tampuk kuasa. Sebuah kontestasi yang mirip dengan Pemilihan Gubernur saat ini.

Sebagai dampak latens dari semua itu, rakyat tak lagi sudi belajar demokrasi. Lantaran dihati rakyat, demokrasi selalu identik dengan saling fitnah, saling ejek dan saling hujat. Demokrasi bukan lagi barang berharga tetapi barang busuk yang menjijikkan.

Nah, apakah fenomena seperti itu yang harus dipertahankan di negeri Bumi Wangi?. Ataukah semua manusia disini hanya akan terus termangu-mangu dipersimpangan jalan sembari menunggu lahirnya pemimpin yang benar-benar berbudi bawa leksana.

Sebenarnya watak pemimpin yang berbudi bawa leksana itu adalah nilai rasa yang tulus alamiah apa adanya. Siapapun bisa jadi sosok tersebut. Asalkan mampu menghilangkan sikap dan sifat Adhigang Adhigung Adhiguna. Menghilangkan sikapnya yang arogan sewenang-wenang dan seolah selalu yang paling pintar serta paling bisa menyelesaikan semua masalah dengan seribu wajah serta sejuta topeng tergantung kepentingandn pencitraan.

Selanjutnya, mari kita pahami bersama apakah pemimpin kita di Banyuwangi, ini sudah benar-benar berpijak diatas prinsip kebenaran serta keadilan hingga mampu menjadi pelindung dan pengayom semua rakyat tanpa terkecuali. Apakah pemimpin kita di Banyuwangi, sudah dengan elegan dapat menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi atau kelompoknya?.

Apakah pemimpin kita di Banyuwangi, sudah berlaku welas asih pada wong cilik?. Sebagaimana ramahnya kepada kepada para  petinggi dari Jakarta?. Dan jawabannya ada pada hati serta jiwa kita semua. (*)

 

Penulis adalah Andah Wibisono, aktivis dan pengamat politik di Banyuwangi

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com