Amazing, Desa Kluncing Banyuwangi Punya Parit Jernih Seperti di Jepang

Home / Berita / Amazing, Desa Kluncing Banyuwangi Punya Parit Jernih Seperti di Jepang
Amazing, Desa Kluncing Banyuwangi Punya Parit Jernih Seperti di Jepang Kampoeng Ikan Desa Kluncing, Banyuwangi. (Foto: Agung Sedana/TIMES Indonesia)

TIMESRIAU, BANYUWANGI – Sangat menakjubkan, sebuah desa di pelosok kaki pegunungan Ijen Banyuwangi ini, memiliki parit yang bersih dan jernih layaknya di Negeri Anime, Jepang. Terlebih, masyarakat Kampoeng Ikan di Desa Kluncing, Kecamatan Licin ini, memanfaatkannya untuk budidaya bermacam-macam ikan.

"Kita budidayakan ikan Mas, Koi, Tombro, Nila, Bawal dan lele. Khusus di parit, hanya untuk indukan ikan mas koi dan tombro saja," kata salah satu pembudidaya, Rusady Awanto, Jumat (18/10/2019).

Sebutan bau dan kotor pada parit sepanjang 800 meter itu tak lagi ada. Sejak 8 bulan lalu, Rusady Awanto yang akrab disapa Wawan itu, bersama warga sekitar menyulap aliran kotor bertumpuk sampah, menjadi sebuah sumber mata pencaharian baru.

kampung-ikan-c---Salin.jpg

Ide tersebut awalnya muncul atas rasa prihatin melihat banyaknya sampah dan limbah warga menumpuk sehingga menyebabkan bau menyengat. Padahal, air yang mengaliri parit tersebut sangatlah dingin dan segar. Sungguh sangat disayangkan apabila kondisi seperti ini terdiam dan tidak segera diatasi.

Berangkat dari situ, kreativitas pun muncul. Hingga dilakukan pembersihan menyeluruh serta mengedukasi para pembuang sampah dengan cara menyebar bibit ikan dan menyulap parit menjadi tempat budidaya ikan.

Kini, ratusan ikan warna warni berenang kesana kemari di parit yang berada di depan rumah warga. Airnya yang jernih membuat setiap gerakan ikan terlihat dengan jelas. Cuaca dingin dan sejuk pegunungan Ijen semakin memberikan ketenangan bagi siapapun yang melihatnya.

Tak hanya disitu, warga sekitar pun juga menerapkan sistem mina padi. Dimana menggabungkan antara budidaya ikan dengan pertanian.

kampung-ikan-b---Salin.jpg

"Setelah ikan berumur satu bulan, kita pindahkan ke sawah dengan sistem mina padi. 15 hari sebelum padi panen, setelah 3 bulan ikan kita pindahkan ke keramba," katanya.

Pembesaran ikan dengan sistem mina padi ini, memberikan keuntungan lebih bagi petani padi. Menurutnya, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembelian pupuk. Karena kotoran ikan secara langsung menjadi pupuk organik bagi padi.

Gemercik air dan pantulan sinar matahari menjadi bukti akan kerjernihan parit yang dahulunya kotor itu. Sejenak, Kampoeng Ikan Desa Kluncing, Banyuwangi, yang terbilang pelosok itu, menjelma menjadi destinasi wisata baru. Khususnya wisata edukasi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com